Mari nak, aku perdengarkan nasihat untuk hatimu.
Tutup buku bukumu, mari duduk rapat.
Hati hati bermain rasa.
Dicuit sikit, dalam lajaknya.
Dipanggil pulang pun, dikerling degil saja.
Oh biar betul. Bukan kepalang degilnya.
Rasa bukan suatu yang serpih serpih.
Ringan bagi yang melihat dan mendengar.
Berat bagi pemain pemainnya.
Permainan rasa, mudah saja.
Buka hati, terima saja dia.
Tidak perlu matamu kenal.
Tidak perlu telingamu dengar.
Cukup dengan hatimu saja yang merasa.
Tapi, awas!
Permainan ini bukan sekadar untuk dia yang biasa biasa.
Perlu ada jujur. Perlu ada setia. Perlu ada percaya.
Pantangnya, jiwa yang rapuh.
Oh mengapa kau tanya?
Tidurmu diteman air mata,
Makanmu dengan tawar yang tinggal.
Hidupmu ibarat sang penagih yang sedang ketagihan.
Itu milikmu jika kau punya jiwa yang rapuh.
Sebaliknya, jika jiwamu seteguh karang dilautan.
Tidak terhakis oleh rasa yang menggesa.
Hadir bersama sabar yang menebal.
Yakin saja, manis sekali hasilnya.
>.........<
No comments:
Post a Comment